FUNDAMENTALISME & HERMENEUTIKA Oleh : Shiddiq Amien

FUNDAMENTALISME & HERMENEUTIKA
Oleh : Shiddiq Amien

Fundamentalisme secara etimologis berasal dari kata fundamental yang mempunyai makna basic and important  ( mendasar dan pokok ). Fundamentalisme merupakan faham dan usaha mempertahankan dan mengamalkan ajaran-ajaran pokok suatu agama. Curtis Lee Laws mendefinisikan fundamentalis sebagai seorang yang siap untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke Anti-kristus dan melakukan pertempuran agung untuk membela dasar-dasar agama ( Karen Armstrong:2002). Istilah fundamentalisme seperti halnya istilah demokrasi, sekulerisme, sosialisme, belakangan sering dikaitkan dengan Islam, walaupun tidak memiliki akar dalam Islam, sehingga muncul istilah-istilah seperti: fundamentalisme Islam, demokrasi Islami, sosialisme Islam dan sebagainya. Fundamentalisme Islam belakangan sering diidentikan dengan teroris atau manusia yang tidak toleran,  ekstrim dan terbelakang. Kalangan ilmuwan dan cendekiawan muslimpun banyak yang ikut aktif memasarkan istilah ini, bahkan menuduh bahwa keterpurukan umat Islam saat ini disebabkan oleh fundamentalisme, mereka  lantas menjajakan liberalisme, yang mereka yakini sebagai sebuah ideologi yang membawa kemaslahatan dan kemajuan dunia.

Istilah Fundamentalisme  dimunculkan pada awal abad 19 oleh kaum Kristen Protestan, sebagai reaksi terhadap mewabahnya sekulerisme  dan kemajuan ilmu pengetahuan, yang telah membawa dampak pada interpretasi terhadap Bible yang memiliki problem teks dan orisinilitas. Interpretasi yang menggabungkan nilai-nilai sekuler dengan metoda penafsiran filsafat Yunani , yakni hermeneutika. Dengan hermeneutika keberadaan Bible dan Tuhan menjadi tidak sakral, karena dalam konsep  ini teks Bible dianggap sama dengan teks-teks lainnya.
Hermeneutika bukanlah konsep asli teologi Kristen, melainkan pengaruh dari filsafat Yunani. Dulu orang Yunani menggunakannya sebagai sebuah metoda menafsirkan karya sastra dan mitos-mitos yang bersifat ketuhanan ( divine ). Bahkan konon hermeneutika sendiri berasal dari nama  seorang  tokoh dongeng Yunani, Hermes.  Metoda ini kemudian diadopsi oleh kalangan  Yahudi dan Kristen. Penyebab diadopsinya hermeneutika ini awalnya disebabkan problema yang dihadapi Bible.

Setidaknya ada dua problem utama dalam Bible : Pertama, Problem teks.  Dalam teks Bible terdapat tiga bahasa yang digunakan : Bahasa Hebrew sebagai bahasa Kitab Perjanjian Lama ( Old Testament ); Bahasa Greek (Yunani) sebagai bahasa kitab Perjanjian Baru (New Tastemen) dan bahasa Aramaic  sebagai  bahasa yang digunakan Yesus. Persoalan muncul ketika hendak menerjemahkan dan menafsirkan Bible ke dalam bahasa lain. Sementara Bahasa Hebrew adalah bahasa kuno yang sudah tidak digunakan lagi, dan tidak ditemukan seorang native dalam bahasa ini. Maka untuk memahamaminya para teolog Yahudi dan Kristen terpaksa menggunakan bahasa yang serumpun denga Hebrew ( rumpun semitic ), yaitu Bahasa Arab untuk menangkap makna yang dikandung Bible. Dalam Encyclopedia Britanica disebutkan .... the search for the original semitic language was on...and Arabic with its primitive inflection soon became the firm favourite  as the primary witness to what that original language must have looked like. Walhasil Kalau kita perhatikan penggunaan hermeneutika sebenarnya  merupakan upaya menutupi kelemahan Bible.

Kedua, Problem Orsinilitas.  Meski Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Hebrew merupakan kitab yang sangat  tua,  tapi masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan hingga kini,  berkenaan dengan siapa yang menulis kitab ini.  Demikian juga dengan Kitab Perjanjian Baru  yang berbahasa Greek memiliki manuskrip dengan versi yang sangat banyak. Bruce M. Metzer menyebut adanya sekitar 5.000 menuskrip Perjanjian Baru, yang satu sama lainnya berbeda, bahkan kontardiktif. Disinilah peran utama hermeneutika untuk mencari “ nilai kebenaran Bible “ sekaligus juga untuk menutupi “lobang-lobang” serta kontradiksi-kontardiksi yang terdapat dalam Bible agar bisa dikompromikan dengan cara merekayasa makna, sehingga Bible bisa tetap dianggap sebagai kitab suci mereka.  Dalam Ensyclopedia Britanica disebutkan :  For both Jews and Christians throughout their histories, the primary purpose of hermeneutics, and of the exegetical methods employed in interpretation, has been to discover the truths and values of the Bible.

Penggunaan hermeneutika ternyata tidak otomatis menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Bible. Dalam perkembangannya malah muncul gugatan : Apakah Bible itu merupakan kalam Tuhan  atau merupakan karya manusia dan interpretasi tokoh-tokoh dalam teologi Kristen?  Selain itu berkembang pula tradisi-tradisi gereja, seperti : misa, api pencucian dan indulgensi ( penjualan surat pengampunan dosa ) oleh Paus yang kemudian dianggap sebagai  tradisi gereja dan sumber keimanan disamping Bible.
Kondisi ini mendorong gerakan Protestan yang dipelopori oleh Marthin Luther (1483-1546)  untuk memberontak terhadap gereja Katolik  dan mengambil langkah menolak kemajuan materi. Mereka juga membentuk sejumlah organisasi. Pada tahun 1902 berdiri  The Society of The Holy Scripture. Organisasi ini membuat penerbitan dengan nama “ Fundamentals”. Gerakan ini dirancang oleh kaum Protestan untuk melindungi kitab  suci mereka dari proses desakralisasi para penafsir liberal.  Setelah itu didirikan juga Lembaga Kristen Fundamentalis Internasional dan Perhimpunan Fundamentalis Nasional pada tahun 1919. Ini merupakan akar fundamentalisme, sebuah pandangan hidup yang muncul sebagai reaksi atas kemajuan ilmu pengetahuan, sekulerisasi dan penafsiran Bible dengan menafikan makna literal.

Ketika kemajuan ilmu pengetahuan mulai menggeliat pada abad  lima belas dan enam belas, baik Katolik maupun Protestan sama-sama tergagap-gagap . Ini bisa dilihat ketika mereka menolak penemuan ilmiah Johannes Kepler ( 1571-1630 ) tentang lintasan planert yang berbentuk elips, dan teori Galileo Galilea ( 1569-1642 ) yang memperkuat pendapat Copernicus tentang bumi yang mengelilingi matahari ( Heliocentris ), sementara Gereja bertahan dengan teori geocentri dimana bumi sebagai pusat, dan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi.  Gap yang lebar antara Bible dengan segala macam hermeneutiknya dengan penemuan-penemuan ilmiah telah membawa konsekwensi runtuhnya kepercayaan terhadap Bible dan pola interpretasi model lama  yang dianggap sudah tidak memadai lagi untuk dipakai.
Dari sinilah kemudian model hermeneutika liberal mulai dikembangkan. Spirit utamanya adalah pembebasan diri dari hegemoni interpretasi pihak gereja dan tradisi-tradisi Kristen yang irrasional. Fokus utama dari metoda ini adalah bagaimana menerjemahkan dan menangkap entitas yang ada pada teks kuno Bible ke dalam bahasa yang mudah dipahami manusia modern.  Salah satu tokoh utama dari hermeneutika modern adalah Schleiermacher (1768-1834) . Model hermeneutikanya menyangkut dua lingkup : Lingkup pemahaman ketatabahasaan ( gramatikal ) dan lingkup pemahaman terhadap kondisi psikologis pengarangnya. Konsekwensi dari model ini adalah seorang interpreter dapat mereproduksi ulang isi sebuah kitab suci lebih baik dari pengarang terdahulu, karena ia telah memahami segala motivasi dan situasi pengarang terdahulu. Selain itu terbuka peluang terjadinya desakralisasi teks yang bersifat divine ( wahyu Tuhan ), karena metoda ini menyamaratakan semua teks sebagai produk dari pengarangnya.. Padahal jika direnungkan bahwa jika teks-teks Bible  dinilai dan dirasakan mengandung segudang masalah, maka interpretasi-nya pun akan lebih bermasalah lagi.

Jika demikian, dimanakah korelasi antara fundamentalisme dengan Islam ? Sama sekali tidak ada. Kecenderungan sekarang malah kaum liberalis melabelkan sebutan fundamentalis kepada kaum muslimin yang menolak hermeneutika, sebuah tuduhan yang sangat kacau.
Islam tidak membutuhkan hermeneutika, Kitab suci Al-Qur’an tidak memiliki problem teks sebagaimana dialami Bible. Al-Qur’an juga sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga  kini dan nanti tidak memiliki problem orisinilitas.  Islam telah memiliki metodologi penafsiran tersendiri, sehingga tidak membutuhkan hermeneutika. Disamping hermeneutika itu sendiri bersumber dari dongeng-dongeng Yunani kuno, yang sama sekali tidaklah layak disentuhkan dengan Al-Qur’an yang berasal dari Allah swt. Hermeneutika juga ketika menjadi subjek filsafat telah melahirkan berbagai aliran hermeneutika. Ada hermeneutika Schleiermacher, Hermeneutics of Betti, hermeneutics of Hirsch, hermeneuticts of Gadamer, dsb. yang satu sama lainnya berbeda.  Wa lillahil hamdu.





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "FUNDAMENTALISME & HERMENEUTIKA Oleh : Shiddiq Amien"

Post a Comment